Simpati VS Empati

Mom and dad pasti sering mendengar kata simpati dan empati. Yang mana yang lebih baik? Apakah simpati? Atau XL? (lho??). Maaf, maksud saya empati. Banyak orang awam pasti menjawab lebih baik empati daripada simpati. Pertanyaannya apakah benar begitu? Mari kita bahas sekilas tentang perbedaan simpati dan empati.



  1. Serupa tapi tak sama

Simpati dan empati memiliki arti yang hampir sama yaitu sama-sama turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Misalkan ada teman kita yang bercerita tentang masalah yang sedang hadir dalam hidupnya, maka saat kita bersimpati atau berempati berarti kita turut merasakan apa yang dirasakan teman kita. Yang membedakan antara simpati dan empati adalah saat kita berempati maka biasanya ada aksi lanjutan untuk membantu teman kita entah menyelesaikan masalahnya atau hanya sekedar menghiburnya. Sedangkan saat bersimpati biasanya kita cenderung terbawa suasana.


2. Pernah mengalami hal yang serupa

Masih dalam contoh kasus saat teman kita bercerita tentang kesusahannya, jika kita pernah mengalami kesulitan / kejadian yang sama maka kita lebih mudah turut merasakan apa yang teman kita sedang rasakan. Ini dinamakan simpati. Sedangkan jika kita tidak pernah mengalami apa yang terjadi kepada teman kita, namun tetap bisa turut merasakan apa yang dirasakan teman kita, inilah yang dinamakan empati. Orang yang berempati tidak perlu punya pengalaman yang sama dengan orang lain untuk turut merasakan apa yang orang lain rasakan.


3. Kondisi perasaan kita

Hal selanjutnya yang membedakan antara simpati dan empati adalah perasaan kita. Orang yang bersimpati, perasaannya cenderung terbawa suasana, seakan-akan ia tertular oleh perasaan orang lain. Misalnya teman kita sedang marah, maka kita juga ikut marah. Sedangkan orang yang berempati perasaannya tidak ikut terbawa dengan perasaan orang lain. Jadi jika teman kita marah, maka kita bisa dengan sadar merasakan kemarahannya namun tidak ikut marah.


Dari 3 hal di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa simpati dan empati adalah hal yang harus dikembangkan. Semakin bijak dan dewasa pikiran seseorang, maka ia dapat mengembangkan simpatinya menjadi empati sehingga perasaan negatif tidak dapat menggoyahkan perasaan orang tersebut.


Hal ini sangat baik untuk diajarkan kepada anak. Di era perkembangan zaman dan teknologi sekarang ini, anak lebih cenderung memiliki individualisme yang tinggi. Lebih memikirkan dan mementingkan kepentingan diri sendiri. Ini menyebabkan kemampuan simpati dan empati anak tidak terasah dengan baik. Dan ini sangat mempengaruhi perkembangan kemampuan sosial anak yang akan berdampak di kehidupan anak di masa mendatang. Lalu bagaimana cara mengajarkan empati kepada anak? Terus simak artikel IDEplus di minggu-minggu depan untuk mendapatkan jawabannya.


17 views0 comments