Memperkuat ikatan emosional dengan anak

Kedekatan emosional antar anggota keluarga merupakan salah satu pondasi keluarga harmonis

Ya, betul sekali. Salah satu kunci dalam mewujudkan keluarga harmonis adalah kedekatan secara emosional. Kedekatan disini bukan berarti kalau dekat malah jadi emosional ya mom and dad. Kalau dekat malah jadi marah-marah dan panas hati. Namun kedekatan yang dimaksud adalah sesama anggota keluarga saling mengerti satu sama lain. Istri dengan suami, suami dengan anak, anak dengan istri, anak dengan sudaranya. Meski fisik tidak saling berdekatan, tetapi secara hati sangatlah dekat. Mom and dad pasti ingin kan memiliki keluarga harmonis seperti ini. Nah, kali ini kita akan membahas bagaimana caranya agar dapat memupuk kedekatan emosional tersebut. Yuk, langsung saja kita simak bersama mom and dad...



Pada bahasan lalu mom and dad telah mengerti tentang gaya komunikasi yang baik untuk dipakai di dalam keluarga (baca 4 gaya komunikasi keluarga). Dari sana dapat disimpulkan bahwa komunikasi asertif adalah gaya komunikasi yang paling ideal untuk dipakai di dalam keluarga. Selain dapat menjaga perasaan masing-masing anggota keluarga, komunikasi asertif juga memiliki kelebihan dapat melatih keterbukaan antar anggota keluarga. Dan keterbukaan antar anggota keluarga ini adalah kunci dari kedekatan secara emosional. Oleh karena itu sangat penting untuk mom and dad senantiasa menerapkan komunikasi asertif di dalam keluarga. Bagaimana caranya? Mom and dad dapat menggunakan framework HIU. HIU disini bukan ikan ya mom and dad.


  1. Hormati dan hargai perasaan anak

Mom and dad, secara usia memang kita ada di atas anak-anak. Secara pengalaman, mom and dad tentu lebih banyak tahu dibandingkan anak. Tetapi jika sudah bicara tentang perasaan maka anak dan orang tua memiliki level yang sama, memiliki tingkat sensitif yang sama, dan memiliki kerentanan yang sama. Orang tua bisa sakit hati, begitu juga anak. Jadi sangat penting untuk orang tua berpikir dari sudut pandang anak dan anak juga dilatih untuk berpikir lebih dewasa. Masing-masing punya peranan untuk saling memikirkan perasaan kawan bicaranya entah antar suami - istri ataupun orang tua - anak.


2. i-message

Mom and dad untuk kita menghormati dan menghargai perasaan anak, kita perlu memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan dengan baik terutama jika pesan yang ingin disampaikan bersifat teguran atau nasihat. Agar pesan ini tidak terkesan menyerang maka mom and dad dapat menggunakan teknik i-message. Teknik i-message memiliki rumus sebagari berikut :


mama / papa merasa + (perasaan yang dirasakan) + karena + (perilaku yang menyebabkan perasaan itu muncul). Jadi mama / papa berharap + (harapan yang diinginkan)

Contoh : Papa merasa sedih karena kamu memukul adikmu saat berebutan mainan. Papa berharap kamu bisa bicara baik-baik dengan adikmu tanpa harus memukul adik. (baca juga 4 cara agar anak mendengarkan orang tua)


3. Ucapan yang benar

Jika kita sudah menghargai perasaan anak kita dan menggunakan rumus di atas dalam menyampaikan pesan kepada anak kita, maka hal penting terakhir sebagai penutup yang manis adalah ucapan yang benar. Menurut bijaksanawan ada 5 hal terkait ucapan benar yaitu :

- Berisikan kebenaran / fakta

- Berguna dan bermanfaat

- Tepat waktu

- Menggunakan empati / simpati

- Disampaikan dengan lemah lembut


Mom and dad, dengan menggunakan framework HIU maka diharapkan mom and dad dapat membiasakan penggunaan gaya komunikasi asertif di dalam keluarga. Jika kita sudah terbiasa menggunakan komunikasi asertif di dalam keluarga, maka mempererat ikatan emosional dengan anak dan antar anggota keluarga lainnya adalah hal yang mudah.