Jangan dengarkan anak (PENTING)

Smart Parents, membaca judul di atas mungkin menggelitik pikiran anda. Bukankah sebagai orang tua memang sudah seharusnya kita mendengarkan anak kita, kenapa malah disuruh untuk jangan mendengarkan? Ini semua ada alasannya dan akan membuat hubungan orang tua dan anak semakin erat. Yuk kita simak lebih lanjut alasannya.





Sebelum kita mendengarkan anak, kita harus mengetahui bahwa ada beberapa level dalam mendengarkan. Menurut Christopher Hills ada 3 level dalam mendengarkan yaitu Words, Essence, Being. Yuk kita bahas sedikit lebih dalam ketiga level ini.


Words

Level pertama dalam mendengarkan menurut Hills adalah level words, dimana pada level ini kita hanya mendengarkan kawan bicara kita hanya sebatas kata-kata saja. Jadi apa yang dikatakan kita hanya mendengar dan mencernanya sebatas kata-kata saja. Tidak ada usaha lebih jauh untuk mengerti makna dibalik kata-kata tersebut. Ini yang sering kali disebut orang masuk kuping kiri, keluar kuping kanan, karena kata-kata tersebut hanya numpang lewat saja.


Essence

Level kedua ini membutuhkan usaha sedikit lebih dalam daripada level yang pertama. Di level yang kedua ini tidak hanya kita mendengarkan secara kata-kata tetapi kita juga mencernanya / merenungkannya lebih dalam. Kita benar-benar mendengarkan secara seksama dan memikirkan apa yang disampaikan sehingga kita dapat menangkap pesan baik yang tersurat maupun yang tersirat.


Being

Level being adalah level tertinggi dalam hal mendengarkan. Di level ini tidak hanya kita merenungkan kata-kata yang kita dengarkan tetapi kita juga membayangkan jika kita berada di posisi kawan bicara kita. Disinilah simpati dan empati kita mulai bermain terhadap kawan bicara kita. Pada level ini kita menengarkan untuk mendapatkan pesan tersurat, tersirat, sekaligus dapat mengetahui apa yang mereka rasakan saat mengatakan hal tersebut.


Nah, setelah mom and dad mengetahui 3 level mendengarkan, maka kita sudah bisa tahu level mana yang harus kita gunakan saat mendengarkan anak. Sesuai dengan judul di atas, kita jangan dengarkan anak jika hanya di level 1 saja. Kita perlu membiasakan diri untuk menggunakan level 2 dan 3 dalam mendengarkan anak. Karena saat berkomunikasi dengan anak kita perlu mengetahui pesan tersirat dan perasaan mereka saat menyampaikan suatu hal.


Sebagai contoh saat anak kita bercerita kepada kita tentang prestasi yang dicapai di sekolah dalam menggambar. Maka jika kita mendengar menggunakan level 1 biasanya kita hanya akan merespon "iya" atau "hmm" saja karena informasi prestasi tersebut hanya kita dengarkan sebagai kata-kata. Jika kita menggunakan level 2 maka biasanya kita akan memberikan apresiasi kepada anak kita. Karena tidak hanya mendengarkan cerita prestasi anak kita tetapi kita juga mencerna kata-kata tersebut yang akhirnya melahirkan pemberian apresiasi untuk anak kita. Nah, jika kita menggunakan level 3 maka tidak hanya apresiasi saja yang kita berikan kepada anak kita, tetapi kita juga bisa merasakan perasaan bahagia yang anak kita rasakan. Kita turut berbahagia secara pikiran dan batin kita, merasa bangga atas usaha yang sudah dilakukan anak kita. Mengapa ini bisa dirasakan karena kita membayangkan jika kita menjadi anak kita yang mendapatkan prestasi tersebut. (baca juga komunikasi baik, keluarga bahagia)


Dari sekilas informasi di atas terjawab sudah bahwa mom and dad jangan mendengarkan anak jika hanya menggunakan level 1 saja. Mom and dad perlu mengusahakan dan membiasakan untuk mendengarkan anak dengan level 2 dan 3 agar anak lebih merasa diperhatikan, disayang, dan dihargai yang otomatis akan membuat hubungan dengan anak semakin erat. (baca juga pentingnya anak merasa disayang). Pertanyaannya di level berapakah kita mendengarkan anak kita sekarang?


Recent Posts

See All