Bolehkah berbohong untuk kebaikan anak?

Mom and dad pasti mendengar kata "white lies" yang diartikan secara awam adalah kebohongan untuk kebaikan. Ini menarik sekali untuk dibahas karena ada dua unsur yang bertolak belakang yang mencoba dipersatukan yaitu unsur buruk (bohong) dengan unsur baik (demi kebaikan). Dan pertanyaan selanjutnya adalah bolehkah mom and dad berbohong untuk kebaikan anak? Yuk, kita selidiki lebih lanjut.


Sebelum kita bicara lebih dalam mengenai white lies mari kita melihat terlebih dahulu konsep dari berbohong. Menurut KBBI, berbohong adalah mengucapkan sesuatu yang tidak benar. Melihat deskripsi dari KBBI, tidak disebutkan elemen sebab akibat dalam berbohong. Jadi saat kita mengucapkan sesuatu yang tidak benar, tidak perlu ditanya alasannya sudah pasti masuk dalam katagori berbohong.



Mengapa mom and dad tidak mengajarkan anak untuk berbohong? Selain dari segi etika yang salah, ternyata berbohong membawa banyak kerugian antara lain :


  1. Berbohong mengikis kepercayaan

Hal yang paling nyata dari berbohong adalah mengikis kepercayaan orang lain terhadap diri kita dan ucapan kita. Tentu kita sebagai orang tua tidak menginginkan hal ini terjadi kepada anak bukan? Orang tua mana yang mau anaknya tidak dipercaya oleh lingkungannya.


2. Berbohong mengikis percaya diri

Seseorang yang berbohong secara tidak langsung mengurangi rasa percaya dirinya karena ia mengatakan hal yang ia sendiri tahu tidak benar. Dan saat rasa percaya dirinya rendah maka ia akan lebih mudah terjatuh ke jurang kebohongan lainnya.


3. Berbohong dapat melukai / merugikan orang lain

Saat informasi yang disampaikan tidak benar maka sangat berpotensi untuk merugikan orang lain. Bayangkan jika harus mengambil keputusan atau memberikan respon atas informasi yang diberikan, maka keputusan dan respon orang tersebut akan tidak tepat dan merugikan dirinya.


4. Berbohong bersifat candu

Seseorang yang sudah sering berbohong maka sangat mudah untuk melakukan kebohongan lainnya. Rasa percaya dirinya yang sudah hancur akan membuat dirinya percaya bahwa kebohongan adalah tindakan yang tepat untuk dilakukan. Jika tidak melakukan kebohongan maka ia akan merasa ditelanjangi, ia akan merasa rendah, ia menjadi pribadi yang takut dengan kenyataan.


5. Berbohong dan jujur memperebutkan satu kursi yang sama di dalam watak kita

Tidak ada kejujuran dalam kebohongan. Tidak ada kebohongan dalam kejujuran. Keduanya bak air dan minyak yang tidak dapat disatukan. Tidak ada area tengah-tengah dimana keduanya dapat bersatu. Pilihannya sudah jelas antara bohong / jujur. Kalau tidak jujur ya berarti berbohong, kalau tidak bohong ya berarti jujur. Pertanyaannya jika anak kita hanya dapat memilih 1 maka bohong atau jujur yang orang tua harapkan untuk anak.


Dari lima kerugian yang sudah disebutkan di atas rasanya sudah cukup untuk mom and dad meyakini bahwa anak harus menjauhi kebohongan. Nah, kalau mom and dad ingin anak menjauhi kebohongan maka seyogyanya orang tua juga harus mencontohkan kepada anak. Dengan cara pikir seperti ini sebetulnya sudah terjawab apakah "white lies" itu baik untuk dilakukan kepada anak.


Namun memang dalam keadaan tertentu terkadang mom and dad merasa lebih mudah menyatakan "white lies" daripada kebenaran. Oleh karena itu gunakan metode SPG. Ini bukan SPG yang menawarkan barang ya, tetapi SPG yang dimaksud terdiri dari :


  • Sesuaikan jawaban / penyampaian dengan umur anak

Seperti yang kita ketahui bahwa cara berpikir anak terus berkembang seiring bertambahnya usia mereka. Oleh karena itu jawaban yang diberikan kepada anak juga harus disesuaikan dengan usia mereka. Pastikan mereka bisa menangkap penjelasannya dengan mudah dan sesuai dengan umur mereka. Penjelasan yang terlalu dewasa dapat membuat mereka semakin bingung dan membuat kita semakin terpojok dengan pertanyaan mereka.


  • Pastikan penyampaian dilakukan dengan baik

Dalam menyampaikan hal penting (saya asumsikan hal penting karena sampai ada pilihan "white lies"), perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang tepat. Ajak anak bicara d waktu senggang sehingga pembicaraan bisa berjalan santai. Gunakan volume dan intonasi yang baik, jangan sampai anak mendapat kesan diintrogasi atau dimarahi. (baca juga bagaimana anak mau mendengarkan kita)


  • Gunakan kata yang tepat dan benar

Dalam memberikan penjelasan kepada anak, pastikan mom and dad menggunakan kata yang baku dan tepat. Jangan menggunakan kata-kata yang membuat anak semakin sulit mengerti apalagi menggunakan kata yang kurang tepat. Misalnya saat menjelaskan anak tentang alat kelamin manusia maka gunakanlah kata penis dan vagina.


Dengan metode SPG ini diharapkan mom and dad dapat lebih terbuka dan jujur dengan anak. Jika ada hal yang sulit untuk dijelaskan, mari kita bersama-sama belajar menggunakan SPG ini agar tidak perlu lagi menggunakan isilah kebohongan untuk kebaikan. Selamat berlatih ya mom and dad


13 views0 comments