4 Gaya Berkomunikasi Dengan Anak

Mom and dad, dapat kita setujui bersama bahwa komunikasi merupakan salah satu pondasi utama hubungan keluarga yang harmonis. Beberapa bahasan tentang komunikasi sudah pernah kita bahas bersama, mulai dari cara mendengar yang baik, sampai dengan cara menghindari kebohongan berkedok kebaikan (bacaan minggu lalu). Nah, kali ini kita akan membahas gaya komunikasi yang biasa digunakan sekaligus memberikan pencerahan tentang gaya komunikasi yang baik untuk digunakan saat berkomunikasi di dalam keluarga.


Sebelum kita bedah lebih dalam mengenai gaya komunikasi ini, mom and dad perlu tahu dulu apa itu gaya komunikasi. Gaya komunikasi dapat diartikan sebagai perpaduan antara konten, cara penyampaian, dan bahasa tubuh. Menurut salah seorang ahli bahasa bernama Albert Mehrabian komunikasi dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu konten, cara penyampaian, dan bahasa tubuh yang dipakai. Ketiganya memiliki porsi keefektifan yang berbeda. Berikut diagram penjelasan beliau yang mudah dimengerti.




Dari diagram di atas dapat kita lihat bahwa peranan terbesar terletak di bahasa tubuh, disusul oleh cara penyampaian dan konten. Ini menunjukan bahasa tubuh sendiri saja sudah dapat menyampaikan suatu pesan kepada orang lain. Namun ini bukan berarti konten dan cara penyampaian tidak penting untuk kita soroti dalam komunikasi. Seperti yang kita tahu cara penyampaian yang meliputi volume dan intonasi sangat penting sekali dalam menyampaikan sebuah pesan. Nah, terima kasih atas penjelasan beliau kita dapat dengan mudah membahas lebih detil dan mendalam mengenai gaya komunikasi.


Secara umum gaya komunikasi dapat dibagi menjadi 4 yaitu komunikasi agresif, pasif, pasif agresif, dan asertif. Masing-masing gaya komunikasi memiliki ciri khasnya masing-masing dan besama-sama kita dapat mengecek apa sih gaya komunikasi yang biasa kita gunakan di dalam keluarga. Dan perlukah kita mengubahnya? Yuk langsung kita bahas satu per satu.


  1. Komunikasi Pasif

Yang dimaksud dengan komunikasi pasif adalah kita tidak banyak mengutarakan apa yang kita pikirkan dan rasakan kepada kawan bicara kita. Kita cenderung lebih mendengar saja, tidak banyak berkomentar, tidak banyak menambahkan, bahkan tidak memberikan sinyal apakah kita setuju atau tidak dengan apa yang disampaikan kawan bicara kita. Orang dengan gaya komunikasi pasif biasanya menjunjung tinggi "kedamaian" sehingga ia merasa dengan tidak banyak bicara maka dapat meminimalisir gesekan. Di saat yang sama biasanya orang dengan gaya komunikasi pasif memiliki masalah dengan kepercayaan diri dan keyakinan diri terhadap topik yang sedang dibicarakan. Di dalam keluarga gaya komunikasi ini kurang baik karena gaya komunikasi pasif ini tidak mempererat hubungan antar anggota keluarga dan secara tidak langsung membangun tembok di antara anggota keluarga. Sesama anggota keluarga saling tidak tahu apa yang dirasakan anggota keluarga lainnya sehingga menumbuhkan sikap cuek yang akan mengikis empati di dalam keluarga.


2. Komunikasi Agresif

Berbanding terbalik dengan komunikasi pasif, orang dengan gaya komunikasi agresif akan dengan mudah menyampaikan suara atau pendapatnya kepada kawan bicara. Bahkan sakin mudahnya terkadang hal yang disampaikan tidak tersaring dengan baik yang tidak jarang berujung hati lawan bicara yang terluka atau dalam kasus ringan membuat kuping kawan bicara menjadi panas. Gaya komunikasi ini tidak terlalu banyak memakai empati dan gaya komunikasi ini berfokus pada penyampaian konten seutuhnya. Penyampaian konten seutuhnya tanpa diimbangi dengan empati yang baik akan terasa tajam setajam silet. Syukur kalau konten yang disampaikan adalah konten yang positif, tapi bagaimana dengan konten yang negatif? Gaya komunikasi ini juga tidak dianjurkan dipakai di dalam keluarga karena gaya komunikasi agresif dapat mengubah "waktu bicara" dengan keluarga menjadi arena pertarungan dengan keluarga.


3. Komunikasi pasif agresif

Nah, dari namanya saja sudah merupakan penggabungan antara pasif dan agresif, begitu juga penjelasannya. Jadi orang yang memiliki gaya komunikasi ini akan cenderung tidak banyak berbicara (pasif), tetapi secara tersirat menunjukan tingkat sinis atau ketidakcocokan dengan level yang tinggi. Contoh gaya komunikasi pasif agresif antara lain sarkasme dan sindiran. Memang secara tidak langsung tidak menyerang kawan bicara seperti gaya komunikasi agresif, tetapi secara tersirat sangat terasa tajamnya pesan yang disampaikan. Gaya komunikasi ini kurang baik dipakai di dalam keluarga, karena meskipun kita menyampaikan isi pikiran dan perasaan, tetapi gaya komunikasi ini juga kurang memakai empati sehingga sangat besar kemungkinannya dapat melukai kawan bicara kita.


4. Komunikasi Asertif

Gaya komunikasi yang terakhir ini adalah yang paling menarik dan paling cocok untuk digunakan di dalam keluarga. Komunikasi asertif memungkinkan kita untuk menyampaikan apa yang kita rasakan dan pikirkan dengan memasukan unsur empati di dalamnya sehingga konten dan cara penyampaian yang dipakai tidak akan menimbulkan gesekan atau melukai hati kawan bicara kita. Ini sangat menjadi rekomendasi gaya komunikasi di dalam keluarga karena antara anggota keluarga saling terbuka, tidak ada yang ditutupi, perasaan dan pikiran dapat tersampaikan dengan baik serta tetap menjaga perasaan para anggota keluarga.


Nah, setelah mengetahui 4 gaya komunikasi ini, mom and dad dapat cek ke diri sendiri dan keluarga, selama ini gaya komunikasi mana yang mom and dad pakai di rumah. Dan lebih dashyatnya lagi, mulai sekarang mom and dad tahu gaya komunikasi yang harus dipakai dan dibiasakan di rumah. Selamat mencoba mom and dad.