Contact Us : +6285285092979 | info@ideplus.co.id

Lapar bikin gampang marah, benarkah ?

 

 

Tak terasa minggu ini kita sudah memasuki bulan suci Ramadan. Tinggal di Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, maka sebagian besar orang di sekitar kita tentunya menjalankan ibadah puasa. Puasa identik dengan tidak makan dan minum pada rentang waktu tertentu. Tak hanya itu, pada bulan suci ini banyak amalan lain yang bisa dilakukan. Banyak lembaga yang juga mendukung bulan suci ini dengan ragam kegiatan positif. Diyakini bahwa perbuatan baik yang dilakukan pada bulan Ramadhan ini akan berpahala ganda.

 

Perihal tidak makan dan minum selama bulan puasa, bagaimanakah dampaknya terhadap kondisi emosional seseorang? Pernahkah kamu mendengar istilah ‘tak ada logistik, tak ada logika’ atau ‘lapar bikin marah’? Seringkali kondisi perut memang berpengaruh terhadap kondisi hati. Lantas apakah orang-orang yang berpuasa dan tidak makan serta minum sepanjang hari akan kesulitan untuk menjaga kondisi emosinya?

Nikfarjam et al., melakukan penelitian mengenai puasa dan kecerdasan emosi terhadap 32 orang mahasiswa di Shahrekord Seminary, Iran. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa berpuasa memang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional. Berbeda dengan mitos yang santer beredar bahwa lapar cenderung membuat seseorang lebih gampang marah, hasil penelitian justru membuktikan sebaliknya. Rata-rata tingkat kecerdasan emosional meningkat secara signifikan pada saat bulan Ramadhan, dibandingkan dengan satu bulan sebelum Ramadan, dan kondisi ini terus berlanjut setelah Ramadan.

Penjelasan lebih lanjut adalah berpuasa pada saat bulan Ramadhan meningkatkan identifikasi diri, toleransi terhadap stress, rasa tanggung jawab dan empati yang turut mendukung peningkatan kecerdasan emosional. Dari sisi kesehatan telah dikonfirmasi bahwa saat menjalankan ibadah keagamaan seperti berdoa dan berpuasa, denyut jantung, laju pernapasan dan tekanan darah arteri cenderung menurun. Hal tersebut menyebabkan tubuh dan jiwa menjadi lebih relaks. Dengan kondisi mental yang relaks, seseorang lebih mampu untuk

melakukan refleksi mendalam terhadap dirinya sendiri. Sehingga hal ini mendukung meningkatnya faktor pengembangan diri, mengatasi kecemasan dan mengurangi potensi gangguan mental.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berpuasa dapat menjadi salah satu faktor positif yang mendukung kesehatan mental, dengan kecerdasan emosional sebagai salah satu bagiannya. Makna berpuasa lebih luas dari menahan lapar dan haus, melainkan sebagai momen untuk secara sadar mengontrol keinginan dan melakukan penghayatan ke dalam diri masing-masing. Akhir kata, selamat menjalankan ibadah puasa bagi rekan-rekan yang merayakan. Semoga bulan Ramadhan ini dapat menjadi momen indah untuk semakin memahami kondisi mental diri sendiri.

 

 

 

 

May 9, 2019

0 responses on "Lapar bikin gampang marah, benarkah ?"

Leave a Message

Your email address will not be published. Required fields are marked *

top
Web Design © JLawren. All rights reserved.
X